Kamis, 24 Juni 2010

Dan Aku “BENCI” Tim Italia!!!

Piala Dunia 2010 sudah memasuki babak 16 besar. Sebagian tim terus melaju memperebutkan Piala Bergilir 4 tahunan ini, namun sebagian pulang dan harus puas menjadi tim penggembira


Banyak hal menarik di Piala Dunia kali ini. Mulai dari kontroversi vuvuzela dan jabulani, serta perdebatan-perdebatan hangat mengenai tim-tim unggulan yang harus pulang lebih awal. Semua sah-sah saja, karena ini adalah mengenai Sepakbola. Olahraga paling populer di jagad raya. Apalagi Piala Dunia adalah event yang tidak bisa disaksikan tiap minggu. Semakin banyak orang yang menyaksikan, sebanyak pula perdebatan yang akan menyertainya.


Pada Piala Dunia yang diadakan di benua Afrika ini, banyak orang berpendapat bahwa terjadi banyak hal yang tak terduga dan mulai mencari-cari alasan jika tim kesayangannya kalah. Mulai dari kebisingan vuvuzela yang membuat komunikasi pemain terganggu, atau keliaran si jabulani yang membuat pemain mati gaya. Bahkan ada yang berseloroh “dukun-dukun Afrika Selatan membuat hasil-hasil pertandingan menjadi tak terduga”. Yah, alasan-alasan yang menurutku sangat konyol.


Aku memang bukan penggila bola yang punya satu klub kesayangan yang harus aku dukung tiap minggu. Aku juga tidak punya satu tim Negara di Piala Dunia untuk digilai. Tapi aku suka menyaksikan pertandingan Sepakbola dan aku sangat menghargai olahraga yang satu ini. Sepakbola adalah bahasa universal menyangkut perdamaian. Dua orang yang sedang bermusuhan tapi menjagokan tim yang sama, bisa saling berpelukan ketika mereka nonton bareng dan tim tersebut menang. Tapi sayangnya, juga tidak sedikit yang bermusuhan karena si kulit bundar. Bahkan ada yang terkena sanksi karena sepakbola.


Mungkin ada yang bilang aku tidak tau sepakbola karena aku menontonnya tanpa feel. Tapi justru perasaan cintaku terhadap sepakbola lah yang membuat aku tidak punya klub dan tim Negara untuk digilai. Di tiap event, aku punya tim favorit yang berbeda-beda. Karena aku mencintai sepakbola, bukan tim sepakbola. Saking cintanya, aku ingin klub atau tim yang benar-benar mencintai sepakbola lah yang menjadi juara, bukan tim yang hanya mengejar status juara dengan menghalalkan segala cara. Aku tidak mau sepakbola dicederai dengan permainan tim yang curang. Sepakbola itu seperti drama kehidupan, orang yang benar-benar bisa mencintai hiduplah yang pantas sukses. Dan hidup bukan hanya soal hasil akhir, tapi juga soal proses.


Sepakbola bukan politik yang nilai-nilainya bisa menjadi bias sesuai yang diinginkan oleh yang berkepentingan. Nilai-nilai dari olahraga ini sangat lugas, murni, dan saklek. Banyak pelajaran hidup yang bisa dipelajari dari sepakbola. Mulai dari skill individu, kerjasama tim, sportifitas, dan attitude semua pihak yang berkepentingan (pemain, pelatih, official, wasit, penonton, dll). Nilai-nilai tersebut hanya secuil dari banyaknya pelajaran yang bisa diambil dari sepakbola.


Aku cinta sepakbola! Di lain sisi, aku tidak suka orang yang curang!! Mungkin karena itulah, aku jadi tidak menyukai tim Italia. Dimulai sejak terbongkarnya kecurangan tim-tim di liga Italia, yang katanya liga papan atas di eropa. Dan harus diakui they was, tapi tidak sekarang. Selain itu, pemain-pemain timnas Italia sangat suka diving dan bermain curang. Bahkan aku dan temanku bingung menentukan pemain jujur di timnas Italia. Berbeda halnya dengan tim-tim lain yang lebih gampang menentukan pemain yang curang dibanding pemain jujur. Bahkan tim kemarin sore sekelas Jepang dan Korsel.


Aku heran dengan sikap para pemain tersebut. Mereka tiap hari bermain dengan bola, tapi mereka bahkan tidak bisa menghargai sepakbola itu sendiri. Mereka tidak benar-benar mencintainya. Apakah mereka hanya memanfaatkan sepakbola untuk mendapatkan uang, gelar, dan kontrak? Dan mereka sudah mencederai olahraga ini. Kasian sepakbola…


Aku juga tidak kalah heran dengan sifat orang-orang yang mendukung salah satu tim saja, tim yang mereka akui sebagai tim kesayangan. Dengan dalil “sebagai fans, saya akan selalu ada di saat yang sulit dan senang” (--Udah kaya ngedukung Negara sendiri aja--). Walau menonton tim kesayangannya bermain jelek dan tim lawan bermain bagus, mereka tetap saja mendoakan tim kesayangannya yang menang. What an unreasonable and unlogically act.


Ya, kira-kira segitu dulu ah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar