Rabu, 07 Desember 2011

Aku tiba-tiba teringat tiga film korea yang bercerita tentang seorang laki-laki yang memiliki keterbelakangan mental. Kedua orang ini selalu diolok-olok “babo” oleh orang sekitarnya dari masa kecil hingga dewasa. Bahkan orang terdekat mereka merasa malu memiliki kerabat yang “bodoh”. Yang satu tidak diakui oleh anaknya dan yang satu lagi tidak diakui oleh adik kandungnya.

Mungkin untuk kita yang menonton, kita merasa kasian dan kadang geram melihat perbuatan orang-orang yang mencela orang yang punya kekurangan. Tidak jarang kita menangis ketika menontonnya. Hahaha… Hal yang menggelikan terkadang jika dipikir lagi. Bisa-bisanya kita menangis hanya karena sebuah film. Tapi tidak masalah, toh film kebanyakan diambil dari realita.

Di kehidupan nyata, kita tidak pernah tau apa yang akan kita lakukan ketika justru orang tua atau adik-kakak kita sendiri yang “bodoh”. Siapa yang tau, kita akan malu atau bangga dengan keadaan itu. Toh, tidak jarang banyak orang yang dipasung oleh kerabatnya sendiri karena memiliki cacat mental. Bahkan aku sendiri tidak tau persis apa yang aku lakukan jika aku ada di posisi kerabat si “bodoh”.

Tapi ya, seperti itu lah manusia. Ketika menjadi penonton, dia tau dengan pasti bahwa ini benar dan itu salah. Kalo kata orang-orang “penonton akan selalu lebih pintar daripada pemain”. Pernyataan itu sangat tepat.

Di kehidupan nyata, tidak jarang kita mengolok-olok keadaan dan kekurangan seseorang, baik itu kekurangan fisik ataupun kekurangan sifatnya, secara langsung dan kadang tidak langsung. Tidak jarang kita bergunjing dan mengata-ngatai orang lain. Aku sadar, aku pun masih sering melakukannya.

Film sebenarnya bukan film yang ditayangkan di tv, bioskop, atau layar tancap. Tapi film dengan panggung seluas langit dan bumi, dengan aktor si aku, si kamu, dan kita semua. Film ini disutradarai oleh Si Pemilik Langit. Namun, ada satu keistimewaan khusus yang diberikan oleh sang sutradara kepada kita, yang tidak dimiliki oleh pemain film di bioskop, yaitu kita bisa memilih peran kita sendiri. Apa kita ingin memilih peran protagonist ataupun peran antagonis? Semua terserah kita.. Memang Maha Segalanya si Sutradara kita ini :D



Tidak ada komentar:

Posting Komentar