.................
seorang pembunuh meminta maaf kepada orang yang hampir mati di tangannya. permintaan maafnya terdengar sangat tulus. memang, hanya dirinya dan Tuhan yang tau soal ketulusan itu. karena ketulusan adalah soal hati dan perasaan. walau seluruh dunia mencemooh dengan tuduhan pembunuh tidak mungkin punya hati.
dia pun sudah diludahi banyak orang akibat perbuatannya. bahkan orang yang tidak mengenalnya pun ikut meludahi. ntah kenapa orang-orang berbuat seperti itu kepadanya. dia sadar, membunuh adalah dosa besar. tapi taukah orang-orang kenapa dia nekat membunuh? padahal si pembunuh dan para peludah tak saling kenal. dan secara tidak sadar, dirinya pun telah dibunuh oleh si para peludah yang dengan bangga mengatakan mencoba menegakkan keadilan.
pembunuh itu terus meminta maaf, tanpa membantah luapan emosi si korban. dia sangat sadar bahwa dirinya salah. dirinya patut menerima hukuman, tapi dia juga sadar bahwa dirinya berhak memperoleh maaf. maklum, si pembunuh pada dasarnya punya pondasi agama yang cukup baik.
pada malam hari, si pembunuh berdoa dalam senandung ayat dari hati kecilnya, mengakui dosa dan sekedar bercakap dengan Tuhannya, merefleksikan segala tindakannya yang sudah-sudah. dia memohon ampunan atas dosanya. dia sangat yakin Tuhan akan mengampuninya.
"Tuhan maafkan hamba karena sudah menjadi seseorang yang sangat tidak tau diri. hamba terlalu sering meminta hingga lupa memberi. hamba meminta umur yang panjang dan kesehatan, tapi hamba tidak bisa memberi kesehatan bahkan hendak menghilangkan nyawa seseorang. ampun ya Tuhan"
dia terus meminta ampunan dari Tuhan. dia juga tidak lupa meminta maaf pada korbannya. tidak perduli akan harga dirinya yang dipermalukan karena permintaan maafnya ditolak. bahkan melihat mukanya saja si korban tak sudi. hal tersebut diterimanya dengan lapang dada.
hingga di suatu hari, dia mendengar bahwa si korban tidak bisa memberi maaf, bahkan berusaha berbalik membunuhnya. si korban membunuh dengan menghabisi karakter dan sisa-sisa nama baik si pembunuh. karena saking bencinya dengan pembunuh, korban menjelek-jelekannya di depan semua orang dan membuat semua orang meludahinya. menganggapnya benar-benar jahat dan korban benar-benar pihak lemah yang harus dilindungi.
belum lagi ternyata si korban tidak lebih baik darinya. korban itu juga pernah hampir membunuh orang lain dengan alasan si orang lain tersebut memang pantas dibunuh. namun, satu hal yang membedakan mereka. si pembunuh mengakui kesalahannya dan meminta maaf, sedangkan si korban tidak pernah melakukan hal yang sama kepada orang lain yang hamapir mati ditangannya. dia tidak pernah minta maaf, bahkan si orang lain itu yang datang dan meminta maaf. maklum, si orang lain sadar dirinya salah dan berhak dibunuh.
setan mengelilingi si pembunuh. hasutan pun mulai didengungkan ke telinganya. akibatnya, si pembunuh mulai kehilangan rasa bersalahnya. dia merasa punya sedikit pembenaran akan tindakannya. bahkan dia mulai muak meminta maaf pada si korban.
pada malam selanjutnya doanya yang tulus berubah menjadi sesat : "Tuhan, jangan biarkan korban itu memaafkanku. biarkan rasa benci, amarah dan dendamnya tumbuh dan mengakar kuat di hatinya. kalau perlu, bantu dia menemukan jalan untuk membalasku atau sekedar membuat orang ikut membenciku. karena aku tidak sudi masuk neraka sendirian. mungkin kami malah akan berteman di neraka. owiya, Tuhan, biarkan juga setan mengerayangi hati dan pikiran orang-orang yang ikut membenciku. supaya nerakamu penuh, dan aku tidak sendirian"
malaikat dan setan yang mendengar doa sesat si pembunuh hanya bisa terpaku menatapnya miris.
.................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar